You are currently browsing the category archive for the ‘Serba 10’ category.
Rasulullah saw bersabda :
“hendaklah kalian selalu bersiwak, karena dalam bersiwak itu ada sepuluh perkara terpuji, yaitu :
- dapat membersihkan mulut
- membuat Allah ridha
- membuat setan marah
- dicintai Allah dan malaikat pencatat amal
- dapat menguatkan gusi
- dapat menghilangkan lendir (pada tenggorokan)
- dapat menyegarkan nafas
- dapat membersihkan cairan yang tidak berguna
- dapat menguatkan (pandangan) mata, dan
- dapat menghilangkan bau busuk (di mulut)
dan siwak termasuk Sunnahku.”
Rasulullah saw juga senantiasa bersiwak. Beliau bersabda :
“shalat dengan bersiwak itu lebih utama daripada 70 shalat tanpa bersiwak (lebih dahulu).”
Rasulullah saw bersabda :
“barang siapa banyak tertawa, maka dia akan disiksa dengan sepuluh macam siksaan, yaitu :
- hatinya mati
- kehilangan wibawa
- disenangi setan
- tidak disukai Allah
- akan menemui hisab yang berat (sulit) pada hari kiamat
- Nabi saw akan berpaling darinya pada hari kiamat
- malaikat pada mengutuknya
- penghuni langit dan bumi membenci dirinya
- dia akan lupa segalanya, dan
- segala aibnya akan dibeberkan pada hari kiamat.
Anas bin Malik ra berkata :
- “wahai anak Adam, kalian berjalan di atas punggungku, sedangkan tempat kembali kalian adalah di dalam perutku
- kalian berbuat dosa di atas punggungku, sedangkan kalian akan disiksa di dalam perutku
- kalian tertawa di atas punggungku, padahal kalian akan menangis di dalam perutku
- kalian bergembira di atas punggungku, tetapi kalian akan bersedih di dalam perutku
- kalian mengumpul-ngumpulkan harta di atas punggungku,sedangkan kalian akan menyesalinya di dalam perutku
- kalian memakan barang yang haram di atas punggungku, sedangakn belatung akan memakan tubuhmu di dalam perutku
- kalian bersikap sombong di atas punggungku, sedangkan kalian akan menjadi hina di dalam perutku
- kalian bisa berjalan bersuka ria di atas punggungku, sedangkan kalian akan sedih di dalam perutku
- kalian bisa berjalan di bawah cahaya matahari, bulan, dan lampu di atas punggungku, sedangkan kalian akan berada dalam kegelapan di dalam perutku
- kalian bisa berkumpul-kumpul di atas punggungku, sedangkan kalian akan tinggal sendirian di dalam perutku.
Ulama ahli bijak berkata : “orang yang berakal ketika bertobat hendaknya mengerjakan sepuluh perkara, yaitu :
- lisannya membaca istighfar
- hatinya menyesa;idosa yang telah dikerjakan
- raganya meninggalkan segala bentuk perbuatan dosa tersebut
- berjanji untuk tidak mengulangi perbuatan dosanya untuk selamanya
- mencintai dan mengutamakan akhirat
- tidak cinta duniawi
- sedikit bicara
- sedikit makan dan minum
- tekun dalam mendalami ilmu dan beribadah, dan
- sedikit tidur
Luqman pernah berkata kepada anaknya (yang bernama Tsaron) : “Wahai anakku, hikmah itu adalah engkau melakukan sepuluh hal, yaitu :
- menghidupkan hati yang mati
- bergaul dengan orang-orang miskin
- tidak terlalu denkat dengan penguasa
- memulikan orang yangh disia-siakan
- memerdekakan hamba sahaya
- melindungi tamu
- menolong orang fakir
- memuliakan orang yang berhak dimuliakan
- menghormati orang yang berhak dihormati
- (poin ke 10 dalam teks aslinya tidak ada, edt.)
Abu Fadhl berkata : “Allah memberi nama Al-Qur’an dengan sepuluh macam nama, yaitu :
- Al-Qur’an
- Al-Furqan
- Al-Kitab
- At-Tanzil
- Al-Huda
- An-Nur
- Ar-Rahmah
- Asy-Syifa’
- Ar-Ruh, dan
- Adz-Dzikr
Rasulullah saw bersabda :
“kesentosaan (orang beriman) itu ada sepuluh macam, lima diberikan di dunia dan lima lagi diberikan di akhirat. Adapun yang diberikan di dunia adalah :
- memiliki ilmu
- bisa beibadah
- memperoleh rizki yang halal
- sabar ketika menerima musibah, dan
- bisa mensyukuri nikmat Allah
adapun lima macam kesentosaan yang diberikan di akhirat adalah :
- Malaikat Izrail datang kepadanya dengan kasih sayang dan lembut (sewaktu mencabut ruhnya)
- Malaikat munkar dan Nakir tidak akan mengejutkan dan membentak dirinya dalam pertanyaan kuburnya
- dia akan merasa aman dari ketakutan yang mahadahsyat
- ketika segala keburukannya dihapus dan diterima segala amal shalihnya, dan
- ketika melintasi shirat bagaikan kilat sehingga bisa masuk surga dengan selamat.”
Ulama ahli bijak berkata : “ada sepuluh sifat yang dibenci Allah, yang timbul dari sepuluh macam orang, yaitu :
- sifat bakhil yang timbulndari orang kaya
- kesombongan yang timbul dari orang fakir
- ketamakan yang timbul dari ulama
- tidak punya rasa malu yang timbul dari kaum wanita
- cinta keduniaan yang timbul dari kakek-kakek
- kemalasan yang timbul dari kaum remaja
- kelaliman yang timbul dari para penguasa
- pengecut yang timbul dari pasukan perang
- ujub yang timbul dari kalangan orang-orang zuhud, dan
- riya’ yang timbul dari kalangan ahli ibadah.”
Yahya bin Mu’adz Ar-Razi pernah melihat seorang ulama ahli fiqih yang cinta duniawi, maka ia berkata kepadanya : “Wahai orang yang berilmu dan yang paham tentang As-Sunnah,
- gedungmu yang besar ini bagaikan istana kaisar Romawi
- keindahan rumahmu bagaikan istana raja Persia
- tempat tinggalmu bagaikan tempat tinggal Qarun
- pintu rumahmu tinggi bagaikan pintu rumah kaum raja Thalut
- pakaianmu bagaikan pakaian raja Jalut
- jalan pikiranmu bagaikan jalannya para setan
- properti milikmu bagaikan milik Marwan bin Hakam (raja Syam)
- kekuasaanmu bagaikan kekuasaan Fir’aun
- hakim-hakimmu pada zhalim, suka menerima suap, dan suka berkhianat
- para pemimpinmu adalah orang-orang bodoh, maka dari itu di manakah jalan hidup yang telah dicontohkan oleh Muhammad saw ?
Rasulullah saw bersabda :
- “tiada seorang hamba yang berada di langit atau di bumi menjadi seorang mukmin sejati sehingga ia menjadi seorang yang berlaku lemah-lembut
- tidaklah dia menjadi seorang yang benar-benar berlaku lemah lembut hingga ia menjadi seorang muslim
- tidaklah dia menjadi seorang muslim sejati hingga manusia lain merasa aman dari gangguan tangan dan lisannya
- tidaklah dia menjadi seorang muslim sejati hingga dia menjadi seorang ‘alim
- tidaklah dia menjadi seorang ‘alim sejati hingga dia mengamalkan ilmunya
- tidaklah dia disebut mengamalkan ilmunya hingga menjadi seorang yang zuhud
- tidaklah ia menjadi seorang yang zuhud hingga ia menjadi seorang yang wara’
- tidaklah dia menjadi seorang yang wara’ hingga dia menjadi seorang yang tawadhu’
- tidaklah dia disebut bersikap tawadhu’hingga dia mengetahui betul siapa dirinya
- tidaklah dia bisa betul-betul mengetahui dirinya hingga dia ‘cerdas’ dalam berbicara.”



Komentar