Dahulu kala, seorang kaisar memerintahkan penunggang kuda untuk emnunggang kuda sejauh yang ia sukai kemudian kaisar akan menghadiahkan kepadanya daerah yang berhasil ia telusuri.

Tentu sajasi penunggang kuda segera melomat ke atas kuda dan memacunya secepat mungkin untuk menjelajahi daerah seluas mungkin.  Ia menunggang kuda dan terus menunggangiunya. Ia memecut kudanya agar lari secepat mungkin.

Meski lapar dan lelah, iatidak pernah berhenti karena hendak menjangkau daerah seluas mungkin. Sampai akhirnya ia berhasil menjelajahi area yang sangat luas. Namun, perbuatannya itu membuatnya begitu lelah sehingga ia merasa tidak bisa lagi mempertahankan nyawanya. Dalam sekaratnya ia merenung, “Mengapa aku memaksa diriku begitu keras?! Sekarang aku sekarat dan aku hanya membutuhkan sebidang tanah kecil untukmengubur tubuhku.” (Author Unknown)

Cerita di atas mirip dengan perjalanan hidup kita. Kita terlalu memaksa diri untuk mencari lebih banyak uang, lebih banyak kekuasaan dan lebih banyak pengakuan. Kita abaikan kesehatan, kebersamaan dengan keluarga, keindahan lingkungan dan hobi yang kita cintai. Kelak ketika kita melihat, kita baru menyadari bahwa kita tidak membutuhkan sebanyak itu. Namun terlambat sudah, kita tidak dapat memutar alik waktu sehingga kita dapat melewatkan hal-hal yang terlewatkan.