YANG PERLU DICERMATI SEBELUM BERINVESTASI

Jangan hanya melihat hasil !
Itu nasihat pertama dan utama bagi para investor. Tapi jebakan memang sering terjadi disini, karena sifat alamiah dan naluriah manusia akan berharap hasil besar dengan sedikit usaha, maka pihak yang menawari skema investasi juga cenderung bercerita ‘indah’ nya saja. Aspek lainnya kemudian terkaburkan. Apa saja itu?

  1. Kehalalan. Ini berkait langsung dengan tulisan kemarin, bahwa semua jenis investasi boleh, asalkan objeknya tidak haram dan transaksinya tidak mengandung unsur tadlis (penipuan & saling menzalimi), riba dengan berbagi bentuknya termasuk bunga, gharar (ketidakpastian dan kecurangan), maysir (investasi menang-kalah layaknya judi), ihtikar dan bai’ najasy (penimbunan barang dengan tujuan mempengaruhi harga).
  2. Tingkat resiko. Dalam investasi selalu ada resiko, baik resiko kehilangan kesempatan yang menyebabkan keuntungan tidak optimal, kerugian bahkan kehilangan modal. Jika kita menjadi shahibul maal (pihak yang memiliki modal), mitra kita yaitu mudharib (pelaksana usaha) harus dipastikan legalitas usahanya, bagaimana mengelola dananya, adil skema bagi hasilnya dan lain-lain. Ini bagian dari usaha meminimalisasi resiko.
  3. Aksesibilitas. Ini menyangkut besar-kecilnya dana yang harus disertakan, kompetensi yang harus dimiliki investor, cara transaksi dan juga terkait lokasi. Ada investasi yang sangat prospektif namun menuntut kita cermat dan setiap saat mengamati prosesnya serta menuntut nilai investasi yang besar. Atau ada tawaran berinvestasi yang cukup ringan tapi berada di lokasi pertambangan di luar negeri. Sesuaikan aspek-aspek ini dengan fakta dan kemampuan kita.
  4. Liquiditas. Ini menyangkut kecepatan dan syarat pencairan dana jika kita memerlukannya. Adakah potongan karena pajak dan biaya lain? Berapa hari kerja? Dokumen yang diperlukan? Real account atau virtual account? Makin cepat berarti makin baik bagi investor
  5. Perlindungan nilai. Yaitu kemampuan investasi kita mengatasi kenaikan-kenaikan biaya baik inflasi maupun pelemahan nilai tukar rupiah. Oleh sebab itu tabungan dan deposito tidak bisa disebut investasi karena tingkat hasilnya adalah 2 s.d 7% per tahun sementara biaya naik hingga 10%
  6. Tingkat hasil/ return. Ini poin terpenting tapi bisa kita abaikan jika aspek nomor (1) s.d (6) tak terpenuhi. Tingkat hasil 10% per tahun sudah bisa dikatakan baik. Diatas itu lebih baik lagi. Lebih baik lagi jika investasinya di sektor riil (bisnis/ perniagaan/ perdagangan) karena selain potensi return yang besar, efek sosialnya akan baik sekali. Investasi property misalnya, selain mendapatkan kenaikan nilai capital juga bisa menghasilkan cash jika dijadikan kontrakan. Ketika membangun kontrakan kita memperkerjakan banyak orang. Ketika kontrakan sudah berjalan, kita libatkan warga sekitarnya menjadi security dan warung makanan. Dalam investasi ada kaidah high risk – high return, dan ini wajar. Yang justru tidak wajar adalah tawaran investasi yang low risk – high return.

Hakikat dari investasi adalah menahan diri saat ini untuk mendapatkan hasil yang sesuai dengan tujuan. Tidak harus hasil yang sangat besar hingga 1000% dalam 3 tahun jika tujuan investasi kita untuk pendidikan anak yang rata-rata naik 15% per tahun. Kembalikan kepada kebutuhan dan tujuan.

Wallahu ta’ala a’lam